Waspadai gula tersembunyi pada makanan yang bisa menyebabkan obesitas

Bisnis338 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Ahli Gizi dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional, Dr. Sipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Firlianita Adianti meminta masyarakat waspada. Gula Tampaknya tersembunyi di dalam makanan dan dapat menambah berat badan tanpa menyadarinya.

“Yang tidak kita sadari saat mengonsumsi suatu makanan adalah makanan tersebut terlalu banyak mengandung gula. Misalnya saja minuman zaman sekarang tanpa kita sadari mengandung terlalu banyak gula,” ujarnya tentang pengendalian obesitas. Selasa, 23 Januari 2024.

Mereka menjelaskan bahwa kebanyakan orang meminum sekitar 4-5 sendok makan gula dalam secangkir kopi berukuran sedang. Padahal dari Kementerian Kesehatan dan Badan Kesehatan Dunia (WHO), anjuran konsumsi gula dalam satu hari maksimal empat sendok makan, ujarnya.

Selain gula, zat paling berbahaya yang dikonsumsi dalam jumlah banyak adalah garam atau natrium. Meski makanannya tidak asin, kata dia, banyak makanan yang tinggi natrium, terutama makanan cepat saji.

Untuk itu, ia mengimbau Anda menghindari makanan yang mengandung zat tersebut demi menjaga berat badan dan terhindar dari obesitas. Firley menghimbau masyarakat untuk mengonsumsi makanan sehat dan seimbang sebagaimana anjuran Kementerian Kesehatan RI (dari Menks) dalam program “Isi Piringku”.

iklan

Intervensi untuk mengurangi obesitas
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Sxono Harbuono menyampaikan program tersebut. Diet seimbang Bertajuk “Isi Piringku”, merupakan metode intervensi yang tepat dalam menurunkan angka obesitas di Indonesia.

“Program ‘Isi Piringku’ yang dilaksanakan di Puskesmas merupakan langkah positif dalam mewujudkan gizi dan pencegahan. Kegemukankata Dante.

Ia mengatakan, program yang diberi nama “Mula Bete” ini mencakup kualitas dan komposisi makanan yang dikonsumsi dan sebelumnya dikenal dengan istilah Empat Sehat Lima Sempurna. Secara umum, “isi piringku” menggambarkan porsi makanan di piring yang terdiri dari 50 persen sayur dan buah serta 50 persen karbohidrat dan protein.

Baca Juga  Apa masalah rasa bersalah dalam suatu hubungan? Inilah tanda-tanda dan cara menyikapinya

Pilihan Editor: Perilaku tidak seimbang sejak masa kanak-kanak mendorong obesitas.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *