Calon Presiden Janji Bangun Teknologi Informasi, Peneliti TII: Ingin Insentif dan Kebebasan Ekonomi.

Bisnis154 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Putu Rusta Adijaya, Ekonom Pusat Penelitian Kebijakan Publik (TIA) Institut Indonesia, mengatakan pemerintah harus memberikan insentif untuk membangun dan memperkuat Teknologi Informasi di Indonesia. Pernyataan tersebut merespons konteks debat calon presiden (Kapres) terakhir pada Minggu, 4 Februari 2024, terkait perkembangan teknologi informasi Indonesia. Indonesia mengimpor ponsel senilai Rp30 triliun, meski hanya membutuhkan investasi Rp0,5 triliun untuk membangun pabriknya.

Menurut Putu Rusta, penting untuk melibatkan banyak pihak, termasuk investor lokal. Mereka juga harus melibatkan dan mendorong pembangunan pabrik telepon seluler dengan memberikan insentif, insentif pajak, dan insentif lainnya.

“Investor juga harus didorong untuk menawarkan transfer teknologi. Di sini diperlukan kemampuan diplomasi yang lebih baik dan kemampuan menegosiasikan kepentingan strategis Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin, 5 Februari 2024.

Selain itu, liberalisasi ekonomi akan membantu mempercepat lajunya, kata Putu teknologi Informasi Di Indonesia. Mereka memberi contoh Amerika dibanjiri Apple dan Korea Selatan dibanjiri Samsung. Keduanya kini menjadi raksasa perdagangan dunia.

“Hal ini tidak lepas dari kebebasan ekonomi. “Hal ini disebabkan adanya orang-orang yang memegang hak paten, memfasilitasi penelitian dan pengembangan, serta memiliki sumber daya manusia dan fasilitas teknis yang memadai, dan lain-lain.

Ia menilai potensi ekonomi digital di Indonesia harus didukung misalnya dengan tata kelola yang baik. Indonesia diprediksi akan menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2030. Oleh karena itu, Indonesia harus mengembangkan teknologi informasi terkait kepemilikan telepon seluler dan teknologi informasi.

“Pasti ada. Manajemen yang baik Hal yang baik dari pemerintah Mengelola investasi untuk hasil yang menipu Dengan berinvestasi di bidang manufaktur telepon seluler, misalnya, masyarakat di bidang manufaktur dapat memperoleh manfaat.

Baca Juga  Istri narsisis adalah sosok yang sombong dan egois serta membuat suaminya terlihat lemah.

iklan

Putu menegaskan, tenaga kerja merupakan komponen vital dalam menarik investasi untuk membangun manufaktur. Seperti manufaktur ponsel. Namun, agar Indonesia bisa memproduksi ponsel, Indonesia harus fokus hanya pada menarik investasi asing dan menarik modal, ujarnya.

Tapi bagaimana pemerintah bisa meningkatkan tenaga kerja Indonesia. Kalau tenaga kerja sudah siap dan ada investasi untuk membangun pabrik ponsel, itu lebih baik dari pada ada yang mau investasi tapi tenaga kerja kita belum siap, ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Putu, sebaiknya pemerintah mengidentifikasi investor lokal terlebih dahulu. Dengan cara ini kita bisa melihat gambaran kemungkinan pemantauan di sektor ini. Ia menekankan, jangan selalu menunggu investor asing masuk. Selain itu, investor lokal juga harus tertarik.

“Tentu saja kami ingin investor lokal juga bertindak. Perusahaan lokal yang telah menjalin kerja sama dengan perusahaan asing dapat mencari dan melaksanakan transfer pengetahuan terkait dengan mengoptimalkan penggunaan anggarannya.

Anissa Fabiola

Pilihan Redaksi: Proses dan Keadaan Seseorang Berhak Mendapatkan Bantuan Sosial Anius Basedan: Bansos itu kebutuhan penerimanya, bukan penerimanya.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *