Berikut kisah variasi Azan Pitu di Masjid Agung Siptarasa Cirebon

Bisnis55 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Salah satu masjid bersejarah di kota Cirebon, Jawa Barat adalah Masjid Agung Sang Siptarasa yang konon dibangun pada masa Walisongo. Bangunan ini menjadi ikon dan destinasi wisata religi yang wajib dikunjungi di Cirebon.

Masjid Agung Siftarasa Berawal dari kata sang sipta rasa, kata sang berarti keagungan, sipta berarti dibangun dan berasal dari arti yang digunakan oleh rasa. Namun masjid yang terletak di kawasan Keraton Kasephuhan ini dulunya disebut Masjid Pakungwati oleh warga pekarangan keraton. Seiring berjalannya waktu, para perantau yang datang pun terbiasa menyebutnya dengan Masjid Siftarasa.

Dari sumber cagarkultur.kemdikbud.go.id, Masjid Agung Sang Sipta Rasa terletak di Jel. Komplek Kasepuhan No., Kasepuhan, Keck. Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45114. Sejarah masjid ini dibangun oleh Walisongo Sunan Gunung Jati pada tahun 1498 Masehi. Sebuah ritual sampai hari ini.

Dilansir dari Universitas Swadaya Gunung Jati, yang menakjubkan dari masjid ini selain marena sejarahnya, terdapat tradisi yang masih dilakukan secara turun temurun yaitu Masjid Agung Siptarasa mengumandangkan adzan setiap hari Jumat. Tidak hanya dibawakan oleh satu muazin saja, melainkan tujuh orang sekaligus yang dikenal dengan tradisi Pitu azan.

Ciri lainnya adalah muazin memakai pakaian khusus. Enam muazin mengenakan jubah berwarna hijau dan sorban putih. Sementara itu, ada seorang pria yang mengenakan baju putih dan sorban hitam.

Namun pada kesempatan tertentu tujuh muazin mengenakan jubah putih dan sorban. Jubah ini hendaknya dikenakan oleh setiap orang yang mengumandangkan azan sebagai tanda dan pembeda dengan jamaah lainnya.

Meski dilantunkan oleh tujuh orang sekaligus, suara azan muazin tetap terdengar merdu. Suara adzan tujuh muazin, panjang dan singkatnya nada adzan pitu terdengar seirama.

Baca Juga  Ketika perlintasan Rafah dibuka, pemerintah mulai mengusir WNI di Gaza

Menurut Moh Ismail, salah satu muazin azan pitu yang diambil dari Antara dan pengelola DMM di Masjid Agung Sang Sipta, sejarah tujuh azan tersebut diyakini sudah ada sejak saat itu. Masa Sunan Gunung Jati. Awalnya merupakan tipu muslihat yang dibuat oleh istrinya, Nyai Pakung Wati, karena saat itu ada masyarakat yang berniat buruk terhadap muazin yang mengumandangkan azan.

iklan

Saat itu masjid sedang ramai dikunjungi orang-orang yang masuk Islam. Hal ini membuat Manjangan Wulu sang tokoh iri. Menjangan Wulu adalah seorang sakti yang berniat mencelakakan muazin. Menurut dia, warga datang ke masjid tersebut karena mendengar azan. Terakhir, dia menyemprotkan racun ke bagian atas masjid.

Alhasil, racun tersebut seketika membuat orang yang mengumandangkan azan saat itu sakit. Melihat hal tersebut, Nyai Pakung Wati memerintahkan muazinnya bertambah menjadi dua orang, namun kecelakaan tetap terjadi.

Kemudian ditambahkan muazin untuk mencegah serangan racun.Enam orang yang mengumandangkan azan, namun tetap terkena serangan racun. Saat dia menambah jumlah muazin sebanyak satu menjadi tujuh, racun di bagian atas masjid meledak. Selanjutnya, azan tetap dikumandangkan oleh tujuh orang untuk mengantisipasi kekerasan.

Setelah dianggap layak, azan ketujuh diubah menjadi salat Jumat saja. Tradisi ini berlanjut hingga saat ini. Perbedaan tersebut menyebabkan Masjid Agung Siftarasa ramai dikunjungi jamaah yang ingin melihat ketujuh muazin melantunkan musik tersebut.

Savina Rizki Hamidah | Putri Saphira Pitaloka

Pilihan Editor: Sang Sipta Rasa Cirebon Keistimewaan Masjid Raya Dari Arsitektur Hingga Tradisi Azan Pitu



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *